Showing posts with label urban design. Show all posts
Showing posts with label urban design. Show all posts


Artikel dibawah yang saya tulis ini telah dimuat di harian kompas, Selasa, 1 Juli 2008

Link arsip berita asli=

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/01/15450656/konsep.kota.dalam.kota.di.kota.semarang.

Konsep kota taman (garden city) yang dicetuskan Ebenezer Howard (perencana kota di Amerika Serikat) menyatakan, area untuk hidup dan bekerja harus dibentuk di antara area komersial.

Konsep itu adalah konsep usang dan tidak layak dikembangkan lagi karena menimbulkan banyak masalah. Akan tetapi, konsep usang itu telanjur berkembang dan diterapkan di berbagai kota, termasuk di Semarang. Di Kota Semarang penataan kotanya sangat dipengaruhi konsep kolonial.

Bentuk “kota taman” di Semarang jelas terlihat. Permukiman penduduk akhirnya terkonsentrasi di daerah sub-urban, seperti Semarang barat (kawasan Manyaran), Semarang timur (kawasan Kedungmundu), serta Semarang selatan (Banyumanik).

Adapun pusat kota berlokasi di Semarang tengah yakni kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda.

Alhasil, setiap hari terjadi kemacetan, potensi kecelakaan, polusi aneka pencemaran, dan potensi stres. Semua itu sebagai dampak kepadatan lalu lintas tiap kali terjadi pergerakan penduduk ke pusat kota untuk beraktivitas pada pagi dan sore hari (pukul 06.30- 09.00 dan 15.30-18.00).

Lihat saja area di sekitar Krapyak, Majapahit, dan Jatingaleh yang selalu penuh manusia menuju dan dari tempat kerja, sekolah, serta area perdagangan. Kepadatan dan kemacetan itulah dampak negatif dari konsep “kota taman”.

Untuk mengatasi kemacetan dan kepadatan yang sungguh tidak nyaman itu bukan hanya dengan mengatur arus lalu lintas. Bukan itu akar persoalannya. Lebih penting lagi menata ulang konsep perancangan kota.

Adanya rambu-rambu lalu lintas, alat penghitung mundur lampu lalu-lintas, dan sarana transportasi umum, hanya dapat membantu mengurangi dampak. Namun, sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Kota Semarang perlu dibagi dalam area lebih kecil menjadi “kota dalam kota” dengan mengembangkan fasilitas pusat kota di setiap area sub-urban.

Sudah selayaknya di Manyaran, Kedungmundu, dan Banyumanik dibangun pusat perbelanjaan, hiburan, komersial, serta kantor dan jasa layanan. Kawasan sub-urban tersebut menjadi “Simpang Lima Baru” sehingga orang dapat bekerja menjalankan usaha dan menikmati hiburan. Jika jarak dari rumah ke tempat kerja dapat ditempuh hanya dalam waktu lima menit, otomatis waktu tidak habis di jalan. Semua masih segar saat di kantor dan mengirit pengeluaran BBM.

Konsep “kota dalam kota” adalah pemecahan masalah kota Semarang. Kalangan pemerintah dapat meninjau konsep ini sebagai solusi, pengusaha dapat melihatnya sebagai peluang pengembangan usaha, dan penduduk juga akan dapat menikmati kemudahan layanan publik dalam berbagai sektor yang berdekatan dengan tempat tinggal.

Andie Wicaksono Arsitek dan pemerhati kota, Jalan ***********, Semarang


Halo Bandung! Aaah, akhirnya bisa kesini lagi..... :) Secara kebetulan berkesempatan mengunjungi kota kembang ini, di minggu pagi yang cerah berjalan-jalan disekitar kompleks masjid Salman, ITB sambil menunggu kehadiran seorang rekan. Teringat kembali tahun 1998 pada saat lulus SMA, Saya sering lari pagi disekitar ruas jalan kompleks Masjid Salman ini. Segar dan asri, itulah kesan yang tercipta saat itu. Masjid yang desain arsitekturnya ber atap datar ini yang -dahulu- terkenal akan keindahan arsitektur bangunannya masih berdiri kokoh, menjadi simbol arsitektur kontemporer yang khas dari kota Bandung ini. Ada satu hal menarik yang saya cermati, kawasan masjid yang diberi nama oleh Ir Soekarno -Dr. Eng. Ir. Bambang Setia Budi, masjid Salman ITB, tonggak arsitektur masjid- ini lebih padat dari saat Saya terakhir kesana tahun 1998. Activity supportnya sangat terasa. Ada angkot-angkot yang sedang menunggu penumpang, ada penjual makanan, ada guru-guru dan murid-muridnya sedang berekreasi disekitar taman, dan beberapa mahasiswa yang sedang berdiskusi, sangat ramai... Tempat ini benar-benar hidup!
Sayangnya, area publik disekitar kompleks masjid Salman ITB ini sekarang tidak terawat. Pedestrian di sekeliling kompleks masjid ini kini terlihat kumuh dan kotor, sumpek, panas, dan penuh dengan pedagang-pedagang lapak disekitarnya. Baliho-baliho besar dari kain bergambar poster bertema "ayo pilih saya!" pak Hatta Rajasa dan bu Betti Alisyahbana menambah keramaian dan hiruk pikuk keruwetan ditempat ini. Lihat saja foto disamping, sampah-sampah kertas, plastik, sisa-sisa makanan, dibiarkan berserakan disekitar plaza utama, tanpa ada petugas yang membersihkan. Sssh..., batang rokok yang sudah pendek aku hisap, siap-siap untuk mematikan puntungnya. Oh, tidak...., sayang sekali, tong sampah pun tidak dapat ditemukan disini >:(
Problematik arsitektur kota Indonesia -seperti yang sudah sering Saya temukan di kota-kota lain- ternyata juga terjadi di tempat ini. Sudah selayaknya hal ini dapat ditangani lebih serius, sehingga upaya untuk menciptakan sebuah ruang publik yang humanis, akan dapat dicapai. Mungkin juga menjadi sebuah pe-er bersama bagi pengelola terkait, dan juga ketua ikatan alumni yang akan terpilih nantinya.


Tulisan Saya ini sebenarnya sudah pernah dimuat di Harian Suara Merdeka dengan judul "Semarang Abaikan Delapan Elemen Perancangan Kota" (SM-Ramekondhe, 30-12006), sengaja Saya tampilkan kembali di blog ini dalam bentuk tulisan yang asli (sebelum diedit redaksi) sebagai sebuah reminder, catatan kecil dari Saya pribadi sebagai warga sebuah kota yang sedih melihat tidak berfungsinya berbagai elemen yang terdapat didalam kota, khususnya di kota Semarang.

MATINYA ARSITEKTUR KOTA DI SEMARANG


Menarik bila mengamati perkembangan kota Semarang akhir-akhir ini. Semarang telah berubah menjadi kota yang tidak jelas arsitektur kotanya. Meskipun Semarang mempunyai banyak pakar arsitektur kota namun semuanya seolah mati suri, mengalami tidur siang yang panjang dan terbuai dalam kesibukannya masing-masing. Sangat disayangkan karena kota Semarang sebagai salah satu ibukota provinsi di Indonesia ini seolah telah kehilangan identitas, kehilangan jati dirinya sebagai sebuah kota yang berkarakter.
Jati diri atau identitas sebuah kota terlihat dari karakter elemen-elemen yang terdapat didalamnya. Hamid Shirvani, seorang pakar arsitektur kota telah mencetuskan teori tentang ‘delapan elemen perancangan kota’ sebagai pedoman dalam merancang sebuah kota yaitu: Land Use, Building Form & Massing, Circulation & Parking, Open space, Pedestrian Ways, Activity Support, Signage, Preservation.
Apabila dilihat kenyataannya di kota Semarang, problematik yang terjadi pada kedelapan elemen perancangan kota tersebut yaitu :

1. Land Use (tata guna lahan)

Banyak pembangunan di Semarang yang menyalahi peraturan tata guna lahan.
Contohnya :
Tata guna lahan kota Semarang yang pada beberapa tempat diperuntukkan sebagai lahan hijau untuk area resapan air, kini berubah fungsi menjadi perumahan real estat dan padang golf untuk kalangan elit.

2. Building Form & Massing (bentuk dan massa bangunan)
Bangunan yang berdiri di kota Semarang semakin tinggi, padat dan tidak manusiawi.
Contohnya :
Semakin banyak privatisasi bangunan komersial, mall dan hotel-hotel yang dibangun di kota Semarang dan menomorduakan area publik.

3. Circulation & Parking (sirkulasi dan parkir)
Lalu lintas kota Semarang yang semakin padat, macet, dan parkir yang tidak tertata.
Contohnya :
Sebagian besar jalan raya di kota Semarang sudah dipenuhi oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat, penuh polusi asap kendaraan, macet pada jam-jam sibuk terutama saat jam berangkat kerja, jam pulang sekolah serta jam pulang kantor, banyak jalan rusak dan berlubang, serta parkir di pusat kota yang tidak tertata dengan baik.

4. Open space (ruang terbuka publik)
Hilangnya ruang publik kota Semarang
Contohnya :
Banyak ruang terbuka publik di kota Semarang yang berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan, tempat berjualan PKL serta area komersial lainnya. Taman-taman yang hijau dan rindang saat ini semakin sulit untuk ditemukan.

5. Pedestrian Ways (area pejalan kaki)
Dimana lagi dapat ditemukan area pejalan kaki yang nyaman di Semarang ?
Contohnya :
Area pejalan kaki pun berubah fungsi menjadi tempat berjualan. Penghijauan dan pohon-pohon yang dapat memberikan kesan teduh pada pejalan kaki juga sangat kurang. Dimensi dan ukuran area pedestrian yang tidak sesuai standar juga mengurangi kenyamanan pada saat berjalan. Banyak elemen pedestrian seperti bak tanaman, halte bus, box telpon, rambu-rambu jalan serta pepohonan yang dirusak oleh vandalisme.

6. Activity Support (aktivitas pendukung)
Memudarnya kegiatan pendukung kota Semarang
Contohnya :
Kegiatan pendukung yang menjadi ciri khas kota Semarang seperti tradisi dugderan mulai luntur dari kebudayaan masyarakat kota.

7. Signage (penanda / reklame)
Pemasangan reklame yang semakin semrawut dan tidak tertata.
Contohnya :
Simpang lima sebagai pusat kota Semarang saat ini berubah menjadi hutan reklame. Banyak titik-titik reklame baru bermunculan tanpa adanya kejelasan pengaturan tempat dan bentuk, sehingga muncul kesan semrawut.

8. Preservation (konservasi terhadap bangunan bersejarah)
Tidak ada upaya pelestarian terhadap bangunan bersejarah.
Contohnya :
Semarang sebagai kota yang mempunyai banyak bangunan kuno peninggalan Belanda banyak yang dibiarkan dalam kondisi tidak terawat, terkesan suwung, dan diperparah dengan masalah rob yang sampai sekarang belum dapat diatasi.
Jadi, melihat permasalahan yang terjadi di Semarang terhadap 8 aspek elemen urban desain di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada satupun dari kedelapan elemen tersebut yang dapat memenuhi kriteria elemen perancangan kota. Inilah tanda-tanda matinya arsitektur kota di Semarang.
Adalah tugas dari seluruh pihak untuk dapat mengantisipasi hal tersebut. Kalangan birokrat, pemerintah kota, LSM, pengusaha, praktisi dan pakar perancangan kota harus dapat bekerja sama secara aktif untuk mengatasi masalah ini, agar kota Semarang yang kita cintai menemukan kembali identitasnya sebagai kota yang berkarakter.