Lima Ketakutan Terbesar Saya

Ini adalah daftar ketakutan terbesar saya saat akan meninggalkan tanah air untuk menempuh studi di luar negeri. Tulisan ini Saya tuliskan tidak untuk menyombongkan diri atas apa yang sudah saya peroleh, tetapi untuk memotivasi siapapun yang membaca artikel ini untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada. Apabila ada kesempatan, lakukan, jangan takut untuk memulainya. Pasti akan ada sesuatu yang menakutkan didepan sana, tetapi jangan sampai ketakutan itu menjadi benteng tebal yang menghalangi kita untuk maju. 
Apakah yang membaca artikel ini punya ketakutan? Sama, saya juga. Tuliskan lima ketakutan terbesarmu dalam selembar kertas, dan pikirkan bagaimana cara menanganinya. Ini adalah daftar lima ketakutan saya yang terbesar:  

1. Saya takut terbang
Ya, saya takut terbang, karena saya pernah mengalami penerbangan dengan cuaca buruk saat masih SMA. Ajaibnya, ketakutan saya ini justru membuat saya bisa berkeliling dunia. Shanghai, San Fransisco, New York, Tokyo, Kyoto, Frankfurt, Bonn, Stuttgart, Venice, Seoul, Busan, dan terakhir baru-baru ini adalah Amsterdam, Rotterdam, Copenhagen, Oslo, Stavanger, ini adalah beberapa kota dibelahan dunia lain yang sudah Saya kunjungi. Kebanyakan tanpa menggunakan biaya pribadi. 
Bagaimana mungkin? Bisa, gunakan beasiswa atau dana sponsor, misalnya fellowship. Ini adalah cara Saya mengunjungi kota-kota tersebut, hampir tanpa biaya. 
Lalu, tentang takut terbang? Anggap saja ini adalah cerita tentang bagaimana cara orang yang takut terbang bisa menjelajah dunia. 
Begini rahasianya, jadi setiap kali akan terbang, saya selalu meminum antimo supaya saya bisa tidur (baca: pingsan, tidak sadarkan diri) :D  Ketakutan ini biasanya makin menjadi saat satu dua hari menjelang keberangkatan. Tapi pada saat sudah berada di pesawat, ya sudah, pasrah saja, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya juga tidak mungkin mengambil alih kemudi pesawat dari pilot. Jadi daripada sibuk mengamati jam landing atau duduk diam berkeringat dingin sambil melihat panel navigasi karena terjadi turbulence ringan didalam kabin, lebih baik gunakan waktu untuk mengobrol/berbincang dengan orang disebelah, atau menonton televisi, mendengarkan musik, atau cara yang paling gampang untuk menghabiskan waktu dipesawat, tidur.  
Ada pengalaman lucu saat saya harus terbang dari Yogyakarta ke San Fransisco, transit di Jakarta dan Hongkong. Jarak Hongkong-San Fransisco harus ditempuh dalam waktu 14 jam, dan saking takutnya beberapa saat setelah take off dari Hongkong, saya minum antimo dua butir dan obat itu membuat saya tertidur selama 12 jam. Saat saya terbangun, Saya sudah bisa melihat daratan Amerika dari jendela pesawat. Sepasang suami-istri berkebangsaan Amerika yang ada disebelah tempat duduk menyapa saya sambil menyelutuk: "what medicine are you use? you sleep like a baby!". Sepanjang 12 jam saya pingsan itu mungkin mereka memperhatikan Saya sambil tertawa. Saya menunjukkan bungkus antimo sambil berkata: "This one, from Indonesia. But please don't try it at home, it will make you stupid" :D   

2. Saya takut tidak bisa bersama orang-orang yang saya cintai
Ya, saya takut kehilangan keluarga saya, terlebih keluarga inti, anak-anak, istri. Jadi alih-alih meninggalkan, mereka saya bawa kesini, ke Belanda. Istri saya juga mendapatkan beasiswa yang sama. Banyak orang menyangka bahwa kami beruntung. Ya, kami beruntung, tapi dibalik itu, yang jarang diketahui orang-orang, kami berusaha sangat keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Kami mendaftarkan diri, mempersiapkan bahasa (TOEFL), mengikuti proses seleksi bersama-sama, menghabiskan waktu-waktu kami yang berharga di tahun kemarin untuk saat ini, untuk hari ini, sehingga kami bisa melakukan studi di luar negeri bersama-sama, sekaligus tetap bersama orang-orang yang dicintai.
Memang tetap ada yang kami tinggalkan, bapak/ibu dan adik kami tetap berada di Indonesia, tapi sekarang ada banyak cara, lewat skype, facebook phone, atau apapun, makin mendekatkan jarak kami dengan mereka. Bahkan bisa dibilang komunikasi dengan jarak sekarang (Rotterdam-Indonesia) sejauh 16.000km dengan orang tua dan kerabat di Indonesia justru lebih intens dilakukan dibandingkan saat kami masih berada di Indonesia.

3. Saya takut kehilangan harta benda (materi)
Di tanah air, tadinya banyak yang saya pikirkan, harta benda, rumah, kos-kosan, motor, mobil, dan semua materi yang lain. Siapa yang akan merawat dan menjaga semua itu? Lalu apa yang saya lakukan? Pasrahkan semuanya kepada yang Kuasa, Allah SWT. Beberapa hari menjelang keberangkatan, saya sempat terpikir mengenai hal-hal tersebut. Hal yang saya lakukan adalah berpasrah, seolah-olah semua itu sudah tidak ada. Memang ada beberapa hal yang masih sempat saya delegasikan kepada sahabat-sahabat saya, pengelolaan kos saya pasrahkan kepada orang tua, pengelolaan kantor kepada rekan kerja, beberapa saat menjelang berangkat, Saya pastikan bahwa semua sudah ada yang menangani, everything is under control.
Saat berangkat, ya sudah, pasrahkan semuanya, materi bisa dicari lagi. 
Lalu, apa yang terjadi saat ini? adalah semua yang saya khawatirkan dulu, berbalik. Sembah syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT penguasa langit dan bumi ini, disini saya dan keluarga kecil saya mendapatkan rumah yang lebih nyaman, kendaraan yang lebih baru dan lebih baik, hidup yang lebih layak, semua seolah-olah diganti oleh yang Diatas. Oh iya, hampir semua materi yang saya takut tinggalkan di Indonesia, itu semua masih ada, dan ditangani oleh sahabat-sahabat terbaik Saya.

4. Saya takut meninggalkan pekerjaan dan kesenangan saya di Indonesia
Pastinya, saya juga takut kehilangan pekerjaan dan kesenangan saya di tempat asal, menulis buku, mengajar, kesenangan online dengan internet, tadinya saya takut disini tidak bisa lagi saya lakukan. 
Apa yang terjadi disini?
Semua yang saya sebutkan, justru dapat saya lakukan disini dengan lebih baik. Semua seperti sudah disediakan. Saya mempunyai waktu yang lebih baik untuk menulis, saya diberi kesempatan untuk mengajar, dan satu lagi tambahan yang menyenangkan, disini Saya mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarga dan anak-anak Saya. Untungnya saya rela meninggalkan koneksi internet speedy 3Mbps di Yogyakarta dan menukarkannya dengan kecepatan 50Mbps di Rotterdam. 

5. Saya takut gagal
Kegagalan adalah ketakutan semua orang, demikian juga saya. Saya takut gagal. Makanya saya mencoba. Keyakinan saya adalah: satu keberhasilan itu pasti dimulai dari sepuluh kegagalan. Kalau saya gagal kali ini, saya masih punya sembilan kali kesempatan untuk mencoba. Jadi supaya tidak gagal, saya harus mempersiapkan diri saya dengan lebih sungguh-sungguh. Kalau saya bisa, tentunya yang membaca artikel ini juga bisa kan? 

Selamat menjelajah! :)
Saya sudah mendokumentasikan beberapa bagian dari perjalanan saya dalam buku: 
"Jelajah Arsitektur Dunia"



















Bukunya bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. 
Baca dan rasakan pengalaman-pengalaman menarik yang saya temukan saat mengunjungi arsitektur dari beberapa kota di dunia.

Note:
Ini adalah ketakutan yang tidak terkait dengan agama/kepercayaan dan adab/tingkah laku sehari-hari, seperti takut kepada Allah SWT, takut korupsi, dll, hal tersebut tidak saya bahas dalam artikel ini.

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail