Melihat secara langsung simulasi pengajuan IMB Virtual di DOB New York City

Siang hari jam 11:30 waktu NY kami berempat masuk di gedung NYC Development Hub atau DOB (Department of Building) NYC, di 80 centre street. Saya, ibu Tria Case (CUNY), Alison Kling (City University of NY), dan rekan fellowship saya di CUNY, Olivia Coldrey (Australian Solar Institute). Pekerjaan di DOB ini sama persis seperti Dinas Tata Kota di Indonesia, mengurusi pengajuan IMB dari masyarakat.

Kami berempat harus melewati satuan keamanan gedung DOB yang cukup ketat seperti pada fasilitas publik yang lain di US (kita pasti paham seperti apa ketatnya pengamanan di US, bahkan ikat pinggang dan sepatu pun harus dilepas. Sayang sekali kamera SLR yang saya bawa harus ditinggal)

Kami diterima oleh beberapa staf DOB, sambil memperkenalkan diri,kami diberikan penjelasan secara singkat mengenai beberapa update terbaru, termasuk sistem pengajuan IMB dengan mengoptimalkan teknologi virtual.

Untuk mengikuti proses simulasi pengajuan IMB ini, kami memisahkan diri menjadi dua grup, grup pertama seolah-olah merupakan grup user (biro arsitek/pemilik proyek), dan grup kedua adalah grup DOB staff.

Kami masuk ke ruangan tele-conference yang dilengkapi webcam dan seperangkat komputer. Di layar, kami bisa melihat grup yang lain dari webcam diseberang, dan ditengah layar terdapat seluruh dokumen yang harus dilampirkan kepada tim DOB (file pdf). Acara simulasi dimulai.

Kedua grup membuka file virtual yang dilampirkan (dicontohkan dengan file denah), dan membuka site plan eksisting (rencana tapak tersedia) yang diambil dari peta bing.com. Kedua grup melakukan review terhadap gambar denah yang di ajukan. Dicontohkan bahwa gambar sempadan yang diajukan oleh biro arsitek sudah memenuhi syarat, tetapi gambar batas dinding dengan tetangga harus direvisi. Terakhir, dokumen virtual tadi di bubuhi cap oleh tim DOB, sebagai tanda bahwa pengajuan IMB sudah disetujui. Selesai.

Proses pengajuan IMB secara virtual ini secara umum baik,dan sangat mungkin diterapkan di Indonesia. Hanya butuh koneksi internet kecepatan tinggi, webcam, dan perangkat komputer dari kedua pihak.

Banyak kelebihan proses virtual ini bila dibanding proses pengajuan IMB secara konvensional, yaitu:
1. Lebih cepat
Orang yang pernah mengajukan IMB pasti sudah tau, seberapa lama dokumen pengajuan IMB mengendap di lemari dinas, seminggu? sebulan? Atau setahun? Tergantung berapa lembar 'lampiran' yang diselipkan,semakin banyak,semakin cepat antrinya (artikan sendiri yang dimaksud 'lampiran')

Di DOB, proses pemeriksaan berkas membutuhan waktu tidak lebih dari 48jam (2 hari). Apabila berkas lengkap, biro arsitek akan mendapat email dari DOB yang berisi jadwal wawancara virtual/tele conference (hari,tanggal,dan jam wawancara).


2.Lebih transparan dan fair
Siapa saja bisa ikut menonton jalannya pengajuan imb ini, dan kedua pihak diperbolehkan merekam jalannya pengajuan. Bila diperlukan, atau bila merasa dipersulit, pihak biro arsitek dapat mengajukan banding dengan bukti rekaman webcam tersebut. Tidak ada lagi proses 'nego' untuk memperlancar pengajuan.

3. Efisien dan Ramah Lingkungan
Proses virtual ini pastinya akan sangat efisien dan berpengaruh baik terhadap bumi. Coba kita perkirakan, berapa puluh ribu lembar kalkir dan kertas yang tersimpan di lemari arsip dinas. Dengan proses virtual, kita tidak perlu repot 'ngeprin' berlembar-lembar dokumen pengajuan tersebut, cukup dikirimkan dalam bentuk pdf atau jpg. Satu lagi langkah yang baik untuk mengurangi produksi kertas, yang berarti mengurangi pembalakan hutan.

Adalah sebuah kesempatan langka untuk dapat mengikuti jalannya proses simulasi pengajuan IMB di NYC Development Hub ini. Mudah-mudahan artikel yang saya tulis dapat bermanfaat, terutama bagi pemimpin-pemimpin bangsa dimasa yang akan datang.

Salam arsitektur,

Andie Wicaksono
Arsitek, pecinta bumi dan lingkungan yang hijau.

2 komentar:

oracle mengatakan...

bravo, mr.wicaksono! smoga ini menjadi 'sentilan' para pelaku perijinan IMB agar terinspirasi dan mau untuk berinovasi dalam menciptakan pelayanan yang semakin baik untuk masyarakat.

Prananda Navitas mengatakan...

Sungguh menarik, apa yang bro Andie sajikan di sini. Memang memungkinkan untuk diimplementasi di Indonesia. Butuh waktu, memang..perlu mengedukasi dan membiasakan staff dinas terkait, dan para pengguna jasa. Ditunggu sharing pengalaman jalan2 yang lainnya :-)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail