Kualitas Layanan, Pedulikah Anda?

Saya sedang berjalan menyusuri sudut kota Solo menuju rumah, ketika tiba-tiba mata saya tertuju ke sebuah neonbox besar yang terpampang didepan sebuah toko. “XXX, Furniture center”, ahh, ini dia. Pikir saya dalam hati. Saya memang sedang mencari perabotan dan interior untuk melengkapi rumah kost yang baru saja selesai saya bangun, mungkin disini saya dapat menemukan beberapa bangku atau meja yang cocok. Motor saya parkir didepan halamannya.

Didalam toko yang masih baru ini hanya ada tiga orang manusia, pasangan muda yang dari sepertinya pemilik toko tersebut, dan seorang pelayan perempuan. Toko ini sepertinya baru buka, terlihat dari barang-barang yang didisplay jumlahnya masih sedikit. Dari raut wajahnya terlihat pelayan ini terlihat kurang antusias dengan kedatangan pengunjung. Sama dengan kedua pemiliknya yang menyambut saya dengan tampang seperti orang yang tidak makan seminggu. Hanya duduk di salah satu sudut ruangan, dengan tatapan kosong. Keduanya hanya mengikuti dengan sudut mata kearah mana saya berjalan mengitari ruangan tersebut melihat-lihat display, dengan wajah tanpa ekspresi.

“Mbak, ada kursi yang modelnya selain ini tidak?” tanya saya sambil menunjuk salah satu dagangan. Perempuan tersebut terlihat seolah-olah sedang sibuk dengan sebuah kertas, seperti daftar inventaris barang atau apalah (padahal saya tau kertas itu tidak dibacanya sedikitpun). “Itu yang warna biru ada didepan kasir”, jawabnya ketus. “saya sudah liat yang itu, yang saya maksud, model selain yang itu, ada apa tidak”, saya mengulangi pertanyaan, cukup kesal, apa ini orang kurang paham, atau memang tidak menghiraukan pertanyaan saya tadi. “Itu mas, brosurnya yang model lain ada diatas meja kasir itu lho, liat disitu saja sendiri,” ucapnya, masih sibuk dengan daftar yang dia pegang tadi, tanpa sekalipun menatap saya. Grrrr, semakin geram saya dibuatnya. ya mana saya tau ada brosur kalo tidak ditunjukkan tempat brosurnya.

Brosur saya bolak-balik, dan saya temukan sebuah model yang cukup menarik disitu. “Mbak, kalo yang ini berapa harganya?”, Tanya saya. Dia diam, tidak menjawab, perhatiannya masih di daftar lusuh yang dia bawa tadi, padahal saya yakin suara saya cukup keras untuk ukuran ruangan toko itu. Ini orang niat kerja apa enggak sih! Saya mengalihkan pandangan kepada kedua pasangan pemilik toko, mengangkat brosur itu keatas. Dari pandangan saya seharusnya mereka berdua tahu bahwa saya butuh penjelasan. Si pria hanya diam, mendongakkan kepala, dan dengan dagunya dia menunjuk ke pelayan tadi, seolah berkata, “tanya aja ke dia, gue udah bayar dia buat kerja tuh”. Astagaaaa! ini toko benar-benar keterlaluan, pemiliknya pun sama aja malesnya. baru kali ini saya diperlakukan seperti ini. “MBAK, YANG INI BERAPA?” saya mengeraskan suara dalam saya, baru dia menatap saya. “Barang di brosur itu disini belum ada pak, jadi saya belum tau harganya”. “Hladalahh!!! Terus kalo begitu buat apa brosur itu kalian taroh diruangan ini? Mending buat bungkus kacang, bisa laku.....” Dongkol, segera saya ngeloyor jauh-jauh keluar dari toko itu. Taruhan kepala ayam goreng taliwang, tidak sampai tiga bulan toko ini akan tutup dengan kualitas layanan seperti ini.

Dijaman yang penuh persaingan, kualitas layanan seharusnya menjadi perhatian utama. Tidak peduli siapapun yang datang, seharusnya pelayanan tetap prima. Apa karena saya kesana dengan motor ya? Pikir saya. Saya jadi teringat awal-awal pemasaran rumah kost yang saya bangun. Siapapun yang masuk kesitu untuk melihat-lihat, saya selalu berusaha untuk melayani dengan baik. Mau itu perempuan bermobil bmw ataupun laki-laki yang datang dengan vespa butut. Saya memang bisa melihat, mana yang benar-benar mampu untuk kost disitu, dan mana yang tidak. Tapi jangan lupa, mereka pun juga akan membawa berita, tentang barang yang anda pasarkan kepada relasi dan kerabatnya. Seorang lelaki yang saya tau bukan target pasar bahkan kemudian datang kembali membawa sekaligus tiga orang penghuni kost, untuk saya. Sedangkan toko tadi, telah kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari banyaknya barang yang akan dipesan oleh seorang pemilik kost, karena perilakunya. Itulah reward dari sebuah kualitas layanan. Semoga cerita ini bisa membawa semangat baru untuk siapapun yang membacanya. Selamat tahun baru 2010!

2 komentar:

matahari mengatakan...

yoooo, andie!!

juragan kos masih pake motor, ya? hehehehe....

nice story, Ndie. smoga bermanfaat buat orang2 yg baca :D

Cheers...

Andie Wicaksono mengatakan...

matahari aka Lawny=
emang kalo juragan kost harusnya naik helikopter ya? hehe..... thanks n sukses jg ya...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail