Matinya Arsitektur Kota di Semarang


Tulisan Saya ini sebenarnya sudah pernah dimuat di Harian Suara Merdeka dengan judul "Semarang Abaikan Delapan Elemen Perancangan Kota" (SM-Ramekondhe, 30-12006), sengaja Saya tampilkan kembali di blog ini dalam bentuk tulisan yang asli (sebelum diedit redaksi) sebagai sebuah reminder, catatan kecil dari Saya pribadi sebagai warga sebuah kota yang sedih melihat tidak berfungsinya berbagai elemen yang terdapat didalam kota, khususnya di kota Semarang.

MATINYA ARSITEKTUR KOTA DI SEMARANG


Menarik bila mengamati perkembangan kota Semarang akhir-akhir ini. Semarang telah berubah menjadi kota yang tidak jelas arsitektur kotanya. Meskipun Semarang mempunyai banyak pakar arsitektur kota namun semuanya seolah mati suri, mengalami tidur siang yang panjang dan terbuai dalam kesibukannya masing-masing. Sangat disayangkan karena kota Semarang sebagai salah satu ibukota provinsi di Indonesia ini seolah telah kehilangan identitas, kehilangan jati dirinya sebagai sebuah kota yang berkarakter.
Jati diri atau identitas sebuah kota terlihat dari karakter elemen-elemen yang terdapat didalamnya. Hamid Shirvani, seorang pakar arsitektur kota telah mencetuskan teori tentang ‘delapan elemen perancangan kota’ sebagai pedoman dalam merancang sebuah kota yaitu: Land Use, Building Form & Massing, Circulation & Parking, Open space, Pedestrian Ways, Activity Support, Signage, Preservation.
Apabila dilihat kenyataannya di kota Semarang, problematik yang terjadi pada kedelapan elemen perancangan kota tersebut yaitu :

1. Land Use (tata guna lahan)

Banyak pembangunan di Semarang yang menyalahi peraturan tata guna lahan.
Contohnya :
Tata guna lahan kota Semarang yang pada beberapa tempat diperuntukkan sebagai lahan hijau untuk area resapan air, kini berubah fungsi menjadi perumahan real estat dan padang golf untuk kalangan elit.

2. Building Form & Massing (bentuk dan massa bangunan)
Bangunan yang berdiri di kota Semarang semakin tinggi, padat dan tidak manusiawi.
Contohnya :
Semakin banyak privatisasi bangunan komersial, mall dan hotel-hotel yang dibangun di kota Semarang dan menomorduakan area publik.

3. Circulation & Parking (sirkulasi dan parkir)
Lalu lintas kota Semarang yang semakin padat, macet, dan parkir yang tidak tertata.
Contohnya :
Sebagian besar jalan raya di kota Semarang sudah dipenuhi oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat, penuh polusi asap kendaraan, macet pada jam-jam sibuk terutama saat jam berangkat kerja, jam pulang sekolah serta jam pulang kantor, banyak jalan rusak dan berlubang, serta parkir di pusat kota yang tidak tertata dengan baik.

4. Open space (ruang terbuka publik)
Hilangnya ruang publik kota Semarang
Contohnya :
Banyak ruang terbuka publik di kota Semarang yang berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan, tempat berjualan PKL serta area komersial lainnya. Taman-taman yang hijau dan rindang saat ini semakin sulit untuk ditemukan.

5. Pedestrian Ways (area pejalan kaki)
Dimana lagi dapat ditemukan area pejalan kaki yang nyaman di Semarang ?
Contohnya :
Area pejalan kaki pun berubah fungsi menjadi tempat berjualan. Penghijauan dan pohon-pohon yang dapat memberikan kesan teduh pada pejalan kaki juga sangat kurang. Dimensi dan ukuran area pedestrian yang tidak sesuai standar juga mengurangi kenyamanan pada saat berjalan. Banyak elemen pedestrian seperti bak tanaman, halte bus, box telpon, rambu-rambu jalan serta pepohonan yang dirusak oleh vandalisme.

6. Activity Support (aktivitas pendukung)
Memudarnya kegiatan pendukung kota Semarang
Contohnya :
Kegiatan pendukung yang menjadi ciri khas kota Semarang seperti tradisi dugderan mulai luntur dari kebudayaan masyarakat kota.

7. Signage (penanda / reklame)
Pemasangan reklame yang semakin semrawut dan tidak tertata.
Contohnya :
Simpang lima sebagai pusat kota Semarang saat ini berubah menjadi hutan reklame. Banyak titik-titik reklame baru bermunculan tanpa adanya kejelasan pengaturan tempat dan bentuk, sehingga muncul kesan semrawut.

8. Preservation (konservasi terhadap bangunan bersejarah)
Tidak ada upaya pelestarian terhadap bangunan bersejarah.
Contohnya :
Semarang sebagai kota yang mempunyai banyak bangunan kuno peninggalan Belanda banyak yang dibiarkan dalam kondisi tidak terawat, terkesan suwung, dan diperparah dengan masalah rob yang sampai sekarang belum dapat diatasi.
Jadi, melihat permasalahan yang terjadi di Semarang terhadap 8 aspek elemen urban desain di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada satupun dari kedelapan elemen tersebut yang dapat memenuhi kriteria elemen perancangan kota. Inilah tanda-tanda matinya arsitektur kota di Semarang.
Adalah tugas dari seluruh pihak untuk dapat mengantisipasi hal tersebut. Kalangan birokrat, pemerintah kota, LSM, pengusaha, praktisi dan pakar perancangan kota harus dapat bekerja sama secara aktif untuk mengatasi masalah ini, agar kota Semarang yang kita cintai menemukan kembali identitasnya sebagai kota yang berkarakter.

3 komentar:

theeaz mengatakan...

udah aq add friend requestnya di goodreads. tengkyu .. penulis buku ternyata ...
pernah di semarang atau mlh msh di semarang ? yup, semarang skrg makin semrawut, ruko2 kosong yg makin bertebaran dimana2, mall2 yg memenuhi kota, sepeda motor dan mobil yg menambah persediaan asap utk kita hirup, fyuuh !! dulu rumahku di hayamwuruk, waktu kecil msh ada jejeran pohon2 cemara di dpn UNDIP, jalannya lengang. umur 25 baru pindah, stlh trotoar sdh bnr2 penuuuh ma warung, kios, toko ...
wah, sori jd curhat :D mhn dimaafkan ya :)

Andie Wicaksono mengatakan...

Sama-sama Tias.. Yup, aku penulis, masih tinggal di Semarang. inilah yang kita sesalkan, perencanaan kota yang kurang baik tampaknya juga terjadi di kota kita. Makasih udah mampir di blognya, sukses selalu... :)

Anonim mengatakan...

Dengan contoh yang diberikan di atas berkaitan dengan 8 elemen pembentuk kota menurut Hamid Shirvani, saya setuju jika Kota Semarang mengalami degradasi dalam bidang arsitektur terutama arsitektur perkotaan. Mohon ijin bagi penulis, saya ingin memberikan sedikit renungan, berkaitan dengan poin no 7 di atas. Jika kawasan Simpanglima kini penuh sesak dengan baliho / papan reklame yang saling berlomba menarik perhatian masyarakat, dan tak jarang hingga sampai menutupi fasade bangunan...masih pentingkah arsitektur bangunan? jika yang dilihat bukan fasade asli bangunan namun topengnya yaitu baliho / papan reklame...mari kita renungkan...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail