Buku Menata Interior Sesuai Fengshui-Griya Kreasi

(CETAKAN#5)

Menata interior sebuah ruangan sesuai fengshui dapat menguntungkan dengan alasan yang logis dan tepat. Apa saja alasan-alasannya sehingga fengshui tidak hanya dianggap sebagai mitos dan kepercayaan saja ?
Buku ini berisi tentang:
- Penataan Interior: ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang kerja, gudang dan ruang makan
- Penjelasan detail : pintu utama, kolam, unsur air, tangga, ornamen estetis, vegetasi dan perabot.
dilengkapi dengan pengaruh karakter elemen fengshui terhadap bisnis Anda.

Temukan hal tersebut hanya di buku : MENATA INTERIOR SESUAI FENGSHUI, terbitan Griya Kreasi ISBN : 979-26-3616-4, seharga Rp. 27.000,- dan aplikasikan pada interior rumah anda, sekarang juga!

Beli buku ini di toko-toko buku terdekat, atau melalui toko buku online penebar swadaya


Referensi bacaan Saya :
Feng Shui For Dummies 
A Master Course in Feng-Shui
Lillian Too's Little Book of Feng Shui for the Office

10 komentar:

Anonim mengatakan...

beli bukunya dimana mas...saya tinggal di semarang

Andie Wicaksono mengatakan...

Bukunya bisa dibeli toko2 buku terdekat di Semarang, di Gramedia Pandanaran atau yg di JavaMall juga ada. Selain itu, buku ini bisa dibeli di TB Gunung Agung.
Thanks mailnya...

Regs,
ANDIE

Andie Wicaksono mengatakan...

Kamis, 14 Juni 2007
Tata Ruang
Fengsui Desain Bangunan
SEMARANG, KOMPAS - Banyak arsitek atau ahli desain dan rancang bangun yang belum menyadari perlunya fengsui dalam mendesain bangunan. Ilmu menata bangunan rumah tinggal dan lingkungannya sesuai dengan keselarasan jiwa penghuni ini bisa lebih meningkatkan cita rasa arsitek dalam mendesain bangunan.
Demikian dikatakan penulis buku "Menata Interior Sesuai Feng Shui" Andie Arif Wicaksono dalam seminar "Kelogisan Feng Shui dalam Arsitektur" di Ruang Thomas Aquinas Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Selasa (12/6). Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang Totok Roesmanto, Dosen Arsitektur Unika Soegijapranata Eng LMF Purwanto, juga hadir sebagai pembicara.
"Hanya sedikit ahli desain dan rancang bangun yang memahami prinsip-prinsip fengsui dan aplikasinya. Banyak juga para arsitek yang tidak percaya dan menolak fengsui," kata Andie.
Menurut dia, prinsip dasar fengsui adalah upaya menyatukan seseorang dengan aktivitasnya sebagai isi, bangunan sebagai tempat orang itu berada, dan lingkungan sekitar bangunan itu. (AB4)

Andie Wicaksono mengatakan...

logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 14 Juni 2007 SEMARANG
Line
Feng Shui, Tak Sepenuhnya Klenik
SESUATU yang diluar logika bisa diartikan sebagai klenik atau mistis. Begitu juga anggapan tentang feng shui. Bagi sebagian masyarakat, feng shui dianggap terlalu mengemukakan hal-hal mistis, terkesan klenik dan menyeramkan.
Karenanya topik mengenai hal itu sering dihindari. Menurut guru besar Undip Prof Dr Totok Rusmanto, feng shui bukan sepenuhnya klenik, tetapi hanya sebagian. Mengapa?
"Karena sejumlah aturan yang ada di dalamnya masih bisa di logika,'' kata dia dalam talk show Kelogisan Feng Shui dalam Arsitektur, Selasa (12/6) lalu di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata.
Dalam acara tersebut menghadirkan pemerhati feng shui Andi Arief Wicaksono ST MT dan dosen teknik arsitektur Unika, Dr Purwanto. Menurut Totok, sejauh aturan-aturan tersebut masih bisa dilogika, ilmu tersebut bisa digunakan.
Sejauh ini tak hanya bangsa China yang mempunyai aturan-aturan tertentu terkait dengan arsitektur suatu bangunan, tetapi juga tradisi lokal. "Masing-masing orang bisa memiliki pandangan yang berbeda terhadap aturan-aturan yang ada. Ini tergantung dari daerahnya,'' katanya.
Gotong Mayit
Misalnya, masyarakat daerah selatan pulau Jawa. Di wilayah itu terdapat aturan yang melarang orang membuat rumah dengan bentuk atap gotong mayit. Bentuk atap semacam itu akan membuat penghuninya meninggal. "Tetapi hal ini justru bertolak belakang dengan aturan yang ada di daerah utara Pulau Jawa,'' imbuhnya.
Bentuk atap semacam ini justru dianggap membawa keberuntungan. Penghuni rumah akan mendapat kekayaan yang berlimpah. Hal ini menurut Totok, masih bisa dilogika ketimbang makna yang ada di daerah selatan.
Memang besar kemungkinannya kalau penghuni rumah tersebut adalah orang kaya. "Ini bukan karena atap itu membawa berkah, tetapi karena untuk membuat konstruksi semacam itu membutuhkan biaya besar. Karena itu hanya orang-orang kaya yang mampu, sehingga bisa dipastikan penghuninya orang berduit,'' papar dia.
Sementara pemerhati dan penulis buku tentang feng shui, Andie Arief Wicaksono ST MT yang juga menjadi pembicara, mengaggap feng shui sering mengedepankan sebab - akibat. Sayangnya itu selalu berkaitan dengan karma dan hal-hal yang terdengar menyeramkan apabila larangan yang ada diabaikan.
"Ini akan membuat orang ketakutan, cemas dan membentuk pola pikir negatif berkaitan dengan tempat tinggalnya. Pola pikir negatif itulah yang mengakibatkan sakitnya seseorang,'' ujarnya. (Budi Winarto-18)

Andie Wicaksono mengatakan...

Fengshui dalam Penataan Interior Arsitektur
Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng

Seminar “Kelogisan Fengshui dalam Arsitektur”, Himpunan Mahasiswa Jurusan Arsitektur
FT. Universitas Katolik Soegijapranata, Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas, Semarang, 12 Juni 2007

Menurut Andie Wicaksono fengshui, dari kata feng atau angin dan shui atau air, mengajarkan manusia untuk menghormati alam dan lingkungan (wicaksono, 2002:6), dan menyeimbangkan dirinya dengan unsur-unsur alam yang bergerak.

Penyelarasan manusia terhadap lingkungan sekitarnya juga diperlihatkan pada kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh kearifan lokal– nya. Dalam masyarakat Bali dikenal adanya keseimbangan kosmos antara manusia sebagai mikrokosmos/bhuwana alit dan alam sebagai makrokosmos/bhuwana agung. Keseimbangan tersebut menurut mitologi Hindu Dharma dikarenakan adanya kesamaan unsur pembentuk (Panca Mahabhuta) manusia dan alam. Alam terdiri dari akaca/gas ether, teja/sinar, wayu/udara, apah/zat cair dan pretiwi/zat padat (Wiratmadja, 1973:42 dalam Roesmanto, 1979:41).

1.
Denah Interior

Penerapan Fengshui dalam perancangan interior mengharuskan chi (energi) yang positif dapat ditangkap agar masuk ke dalam ruangan melalui pintu utama untuk kemudian dialirkan ke setiap ruangan seperti layaknya udara mengalir. Menurut logika Andie, udara akan selalu berputar menjadikan ruangan tidak lembab, memberikan kesegaran yang akan menyehatkan pengguna ruangan. Energi positif harus bersemayam di dalam ruangan, dan tidak boleh hilang.

Pada rumah tradisional Jawa di sekitar Jogja-Solo, angin semilir melewati pendhapa tanpa dinding di depan rumah, akan merambatkan kesejukan ke dalam bangunan dalem atau omah mburi yang lapang. Udara tersebut tidak akan menembus langsung ke arah belakang karena keberadaan senthong-kiwa, senthong-tengah, senthong-tengen yang tidak berjendela dan berpintu belakang, tetapi disebarkan ke ruangan sekitar. Udara akan berhembus ke arah samping melalui longkang (ruang terbuka) antara dalem dan gandhok. Hal tersebut berbeda dengan tata ruang rumah tradisional Jawa di daerah pantai yang berhawa panas. Pengguna ruang membutuhkan ruangan yang lebih sejuk yang dihasilkan dari hembusan udara segar yang dilintaskan ruangan dengan sistem ventilasi silang. Ketiadaan senthong tengah menyebabkan udara segar dari arah laut (arah belakang) mengalir masuk ke dalam rumah melalui celah yang tidak lebar dan menyejukkan ruang dalam, untuk kemudian ke luar melalui deruji pintu sorong di ruang jagasatru.
Chi positif setelah melewati pintu regol depan pada rumah Pecinan di Dasun, Lasem, akan terjebak ke dalam bangunan utama yang lantainya paling tinggi dan volume ruangnya paling besar dibandingkan bangunan lain di tepi-tepi dinding pembatas samping.

Kini, ukuran rooster dekoratif semakin mengecil, lubang-lubang ventilasi tidak lagi diperlukan karena untuk menyejukkan ruangan mengandalkan keampuhan penggunaan AC.

2.
Dimensi

Mistar Fengshui digunakan untuk mengukur lubang (lebar dan tinggi) pintu dan jendela (sebagai gerbang utama masuknya chi ke dalam ruang).

Primbon Betaljemur Adammakna mengatur tentang penentuan posisi lawang pakarangan (pintu pagar) rumah. Aturan keletakannya berdasarkan arah hadap bangunan, tetapi cara menentukan letaknya tergantung dari kemantapan (sreg) pemilih. Terdapat 3 pilihan utama, yaitu dengan pembagian lima dan 2 cara pembagian (membagi lebar halaman menjadi) sembilan (9 bagian yang sama). Pemilihan letak pintu pagar akan berdampak baik-buruk pada pemilik rumah, tetapi secara logika sulit untuk dijelaskan.
Apabila menggunakan pembagian sembilan, letak pintu pagar selatan pada bagian ke-1 (dari arah timur) akan jatuh pada petungan (hitungan jawa) Bumi berdampak becik (baik) ke-2 Kreta, baik, ke-3 Kala, ala (jelek), ke-4 Kali, jelek, ke-5 Bumi, ke-6 Kreta, ke-7 Kala, ke-8 Kali dan ke-9 Bumi. (Periksa: Adammakna hal. 142). Pembagian sembilan lain menghasilkan petungan yang berbeda. Letak pintu pagar pada bagian ke-1 (dari arah timur) akan berdampak pemiliknya duwe kabecikan (memiliki kebaikan), ke-2 ora duwe utang (tidak punya hutang), ke-3 suka cipta (suka berkreasi) cocok untuk calon arsitek?, ke-4 mundhak pinter (bertambah pintar), ke-5 sring kepaten (seringkali anggota keluarganya meninggal), ke-6 rosa pikire (pikirannya kuat), ke-7 oleh sugih (kaya), ke-8 oleh sawab batin (memperoleh dampak positif dari doa orang lain), ke-9 oleh pitutur suci (mendapat wejangan suci). (Periksa: Adammakna hal.141)
Apabila menggunakan pembagian lima, letak pintu pagar selatan pada bagian ke-1 (dari arah timur) akan berdampak pemiliknya selamat, ke-2 sabarang kang tinandangan dadi, makolehi (apapun yang dikerjakan akan berhasil), ke-3 kena sengkala ala (mendapat masalah), ke-4 sring nemu pakewuh (seringkali harus bersikap sungkan), ke-5 sangar, kurang becik (berbahaya, kurang bagus). (Periksa: Adammakna hal.140)

Pembagian manurut Betaljemur Adammakna (karya Pangeran Cakraningrat berdasarkan ajaran Hamengku Buwono V) tersebut tidak menjelaskan tentang penentuan letak pintu rumah. Penerapannya akan menghasilkan pintu rumah yang terletak persis di tengah dinding selatan akan berdampak baik, sring kepaten ataupun kena sengkala ala. Letak pintu dimaksud akan berhadapan langsung dengan keberadaan senthong tengah. Umumnya letak tersebut sedikit digeser sedikit ke samping.

Menurut Lontar Asta Kosala-Kosali lebar halaman rumah akan memiliki dampak baik dan buruk kepada penghuninya. Lebarnya ditentukan berdasarkan kelipatan dhepa kepala rumah tangga yang modulnya ditentukan oleh undhagi (arsitek tradisional Bali). Kesalahan penentuan ukuran tersebut akan berdampak langsung pada undhagi-nya. Bedanya, penerapan fengshui tidak mengatur tentang lebar kapling dari kediaman seseorang, dan letak pintu pagarnya. Tetapi lubang pintu akan berpengaruh pada

3.
Warna

Diagram warna Fengshui dan Nawasanggah (dalam tradisi Bali yang berbeda untuk daerah Bali Selatan dan Utara) memiliki kesamaan dalam pemetakan menurut 9 zona, tetapi berbeda warna-zonanya. Zona timur menurut Fenfshui berwarna biru/hijau, Nawasanggah berwarna putih. Barat, fengshui putih, Nawasanggah kuning. Timurlaut, Fengshui kuning, Nawasanggah biru. Tenggara, Fengshui biru/hijau, Nawasanggah ungu. Baratdaya, Fengshui kuning, Nawasanggah jingga. Baratlaut, Fengshui putih, Nawasanggah hijau. Tengah, Fengshui kuning, Nawasanggah mancawarna. Fengshui dan Nawasanggah memiliki kesamaan warna hitam pada zona utara, dan merah pada zona selatan. (Periksa: Roesmanto, 1979:40b dan Wicaksono, 2002:11).
Penentuan warna tersebut sulit dijelaskan secara logika. Tetapi dalam mitologi Hindu Dharma, zona utara hitam simbolisasi dari Dewa Wisnu, zona selatan merah simbolisasi Dewa Brahma, dan tengah campuran bermacam warna (bisa kuning ataupun putih) simbolisasi Dewa Syiwa (ketiganya merupakan ke-maha agung-an dari Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa). Syiwa merupakan dewa tertinggi dalam Hindu Syiwa-siddhanta, maka letaknya juga ditempatkan di bagian tengah. Kaitannya dengan tata bangunan pada rumah tradisional Bali zona merah diperuntukkan keletakan bangunan paon/dapur, yang filosofinya diharapkan semua niat buruk seseorang setelah melewati pintu pagar akan lenyap terbakar oleh keberadaan dapur.

4.
Penataan Ruang Tidur

Keberadaan ruang tidur sangat penting menurut fengshui. Aturan tradisional tidak memberikan aturan yang sangat rinci tentang ruang tidur. Pada rumah tradisional Bali yang terdiri dari beberapa bangunan dengan fungsinya masing-masing, penataan ruang tidur menurut fengshui dapat diperbandingkan.
Fengshui melarang seseorang tidur dengan kepala atau kaki menunjuk ke arah pintu. Menurut Andie, secara psikologis tidur menghadap pintu akan menimbulkan perasaan was-was, dan posisi tempat-tidur/ranjang akan terlihat dari luar. (Wicaksono, 2002:24).

Berdasarkan tata nilai menurut Nawasanggah, pintu ruang tidur harus berada pada zona terendah tata nilai di ruangan tersebut. Sedangkan kepala harus diletakkan pada zona tertinggi, di Bali Selatan berada di bagian utara ataupun timur. Maka akan dihasilkan komposisi perletakan yang terbaik, kepala di utara dengan ranjang menempel pada dinding barat ataupun dinding timur dengan pintu di dinding barat sudut baratdaya, atau kepala dibagian timur dengan ranjang menempel pada dinding selatan ataupun dinding utara dan pintu di dinding selatan sudut baratdaya.

Perbedaannya, menurut Fengshui ruang tidur anak terletak di daerah timur, tenggara dan barat. Menurut Nawasanggah, zona barat memang diperuntukkan ruang tidur anak (terutama anak perempuan) dan zona utara untuk ruang tidur orang tua, sedangkan zona timur untuk Bale Gedhe sebagai ruang serbaguna yang dapat berfungsi sakral sebagai tempat menyemayamkan jasad anggota keluarga yang meninggal dan tempat pelaminan pada perhelatan keluarga. Zona tenggara diperuntukkan bangunan jineng/gudang dan kebun, sedangkan menurut fengshui gudang sebaiknya di bagian utara.


Kepustakaan
Roesmanto, Totok, 2007, Potensi Lokal dalam Arsitektur di Indonesia, Penerbit Undip, Semarang.
Roesmanto, Totok, 1979, Pengembangan Pusat Desa Adat Tradisional Bali Perencanaan Museum Purbakala Pejeng Bali, LP3A, Jurusan Arsitektur FT Undip, tidak dipublikasi.
Subagya, Rachmat, 1981, Agama Asli Indonesia, Sinar Harapan & Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
Wicaksono, Andie A, 2002, Menata Interior Sesuai Fengshui, Griya Kreasi, Jakarta.

Andie Wicaksono mengatakan...

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih yang sebesar-besarnya Saya ucapkan atas bantuan, kehadiran dan partisipasinya pada rangkaian acara talk show “Kelogisan Fengshui dalam Arsitektur”, untuk bedah buku : “Menata Interior sesuai Fengshui”, terbitan Griya Kreasi (Penebar Swadaya) ISBN 979-96564-2-7, di Ruang Theater Thomas Aquinas, Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Selasa, 12 Juni 2007, terutama kepada :

1.
Seluruh hadirin dan tamu undangan
2.
Bapak Ir. Ayub Listriadi, MT, Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Soegijapranata.
3.
Bapak Prof. Ir. Totok Roesmanto, M.Eng, guru besar Universitas Diponegoro Semarang, selaku pembahas.
4.
Bapak Dr. Eng. LMF Purwanto, dosen pengajar Jurusan Arsitektur Universitras Katolik Soegijapranata, selaku pembahas
5.
Inigo Sitorus, ST, alumnus Arsitektur Unika Soegijapranata selaku moderator
6.
Mbak Roosalina, Mbak Ratih, Mas Rahmat dan Mbak Ida
7.
Mas Agung dan bapak Y.Soegiyono, perwakilan PT. Penebar Swadaya
8.
Mas Budi Win, Mas Henry, rekan-rekan dari pers dan media massa
9.
Mbak Ella, perwakilan CV. Wicaksana Jaya Abadi
10.
Dimas, Ina, Ita, Adrian dan seluruh rekan-rekan di HMJ Arsitektur Unika
11.
Jurusan Arsitektur Universitas Katolik (UNIKA) Soegijaypranata Semarang
12.
PT. Penebar Swadaya (Griya Kreasi)
13.
PT. Toga Mas
14.
Harian Suara Merdeka (Redaksi Biro Kota)
15.
Harian Kompas (Redaksi Jateng-Jogja)
16.
Harian Jawa Pos (Redaksi Radar Semarang)
17.
CV. Wicaksana Jaya Abadi

(mohon maaf bila ada kesalahan penulisan nama, gelar atau jabatan)

dan kepada seluruh pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu, saya ucapkan terima kasih atas kerjasamanya dalam acara tersebut, disertai harapan semoga talkshow ini dapat membawa manfaat dan kerjasama yang baik ini akan dapat berlanjut di kemudian hari.

Hormat Saya,
ANDIE WICAKSONO

Anonim mengatakan...

Hai Mas Andie,
Salam kenal. Saya Audie di surabaya. Saat ini saya sedang merenovasi rumah (menambah ruang tamu dan memindah pagar)
Pagar saya yang baru saat ini berbanding lurus dengan pintu keluar (dari dapur). Bagaimana fengshuinya? Kalau buruk, bagi solusinya dong..

Thanks alot.
Audie

Andie Wicaksono mengatakan...

Audie, pagar yang lurus dengan pintu dapur memang kurang baik dari sisi fengshui, solusinya bisa dilakukan dengan memindah salah satu (kalo bukan pagar ya pintu dapurnya), atau dengan menambahkan penyekat diantara kedua akses tersebut.

regards,
aw

Ridwanars mengatakan...

Halo..Mas Andi, salam kenal, kita sudah jd friend kayaknya di MyBlogLog, sepengetahuan saya Fengshui kalau ditinjau dari Arsitektur Perilaku adalah Limitation Abstrak, ini saya pernah buat pada paperwork saat kuliah S2, menarik kalau dibuat ulasannya. Selamat juga atas diterbitkannya beberapa buku2 anda. Semoga memberikan khasanah baru kepada masyarakat luas, btw: boleh mencantumkan link di blog saya, Mas Andi? Thks.

LUKISAN MODERN mengatakan...

Makasih Mas Bro atas sharenya, berguna banget postingan ini khususnya buat Saya pribadi, ditunggu postingan selanjutnya

Salam - Lukisan Minimalis :D

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Free Samples By Mail